Sebenarnya ini bukan topik baru, tapi hanya sedikit mengingatkan kembali tentang topik yang pernah aku tulis di sini, yang intinya adalah cerita tentang hasil silaturahim ke wilayah TPA Bantar Gebang, dimana disana kehidupan saudara-saudara kita bergulir dalam kondisi yang penuh dengan keterbatasan.
Hidup bagi mereka adalah berjuang, mencari sesuap nasi, mengais-kais tumpukan sampah untuk mencari sesuatu yang bisa dijual, sekaligus sesuatu yang bisa dimakan. Tak jarang pula mereka menemukan bayi-bayi yang tak lagi bernyawa.
Bukan hanya orang tua, anak-anak pun larut dalam perjuangan kehidupan itu, dan hampir kehilangan masa kecil yang seharusnya indah.
Barangkali dalam hati kecil kita ada terbersit keinginan untuk berbagi, Insya Allah sumbangan berupa buku-buku Iqra, buku anak-anak, buku pelajaran, buku tulis dan perlengkapan sekolah akan sangat bermanfaat bagi mereka (yang membutuhkan info lengkap silakan e-mail ke saya ya..).
Terimakasih rekans..
Source: http://www.korantempo.com/korantempo/2008/05/29/Internasional/krn,20080529,49.id.html
TOKYO — Tiketnya! Tapi bukan petugas tiket yang menerima para penumpang di sebuah stasiun kereta api di Jepang, melainkan seekor kucing. Berkat si pus inilah, perusahaan kereta api yang menjelang kebangkrutan kini bangkit lagi dan bahkan memanen keuntungan bagi kas perusahaan.
Mengenakan topi hitam seperti yang dikenakan pegawai kereta api, Tama, sang kucing, berpose untuk foto bersama penumpang. Dialah yang berjasa mendongkrak keuntungan Perusahaan Kereta Listrik Wakayama hingga 10 persen.
Padahal, dua tahun lalu perusahaan itu terpaksa memecat semua stafnya di Stasiun Kishi di Jepang Barat. Namun, Tama tetap berada di sana. Bahkan dia dipromosikan menjadi manajer stasiun. Kucing lucu itu kini mendapat kantor bekas loket tiket.
Kucing yang lahir dan besar di stasiun kota Kinokawa, Prefektur Wakayama, adalah bukti hidup kepercayaan masyarakat Jepang bahwa kucing adalah pembawa keberuntungan. “Dia tak pernah mengeluh meskipun para penumpang mengelus seluruh tubuhnya. Dia adalah kucing luar biasa. Dia punya kesabaran dan kharisma. Dialah kepala stasiun yang sempurna,” kata Yoshiko Yamaki, juru bicara perusahaan kereta itu.
Kucing berusia sembilan tahun itu tak menerima gaji dalam bentuk uang, melainkan dalam bentuk makanan. Dia menjadi pusat perhatian setelah perusahaan itu benar-benar mengangkatnya menjadi “kepala stasiun”. Sejak itu, stasiun itu kembali dipenuhi penumpang dan pendapatannya meningkat hingga 10 persen. Saking terkenalnya, kini telah terbit buku fotonya yang berjudul Catatan Harian Tama, Sang Kepala Stasiun.
ikutan kompetisi blog yang di selenggarain ma acer yuk!!
dengan tema “Breaking the Barriers of E-Learning implementation in Indonesia“
saya sudah ikutan hehehee….
