Archive for February, 2009

Pakaian Termahal Di Dunia

Saturday, February 28th, 2009
A

Bayaran Pertama Adsense via Western Union

Friday, February 27th, 2009

Dimulai dari bangun tidur hari ini, langsung ngambil hape K750i kesayangan. Bukak account Adsense, Paimin History :mrgreen:  ternyata sudah Payment Issued. Nyoba buka, akhirnya sudah keluar MTCN (Money Transfer Control Number) dari Western Union. Akhirnya jam 8 udah berangkat ke Bank Mandiri yang juga agen WU di kota Pare tercinta. Karena masih pagi belum banyak nasabah yang datang (sengaja sih!), langsung ke CS-nya yang bapak-bapak :mrgreen: .

Disodorin lembar dari WU untuk diisi, saya isi lengkap MTCN, pengirim, penerima, alamat, amount sambil ngeliat print payment issued dari Adsense biar gak salah. Akhirnya setelah dicek bener dengan nilai kurs 11.600/dolar, bapak CS-nya minta 6000 untuk materai. Sambil ngisi form pencairan, bapaknya nanya-nanya gimana usahanya dapat duit dari Google. Akhirnya ngejelasin dengan bahasa yang se-simpel mungkin. Bapaknya juga ngejelasin kalau ada fee dari WU untuk pencairan, lalu saya tanyakan berapa, bapaknya bilang bisa sampai 1 juta.. beuuuh..

Tapi setelah dicek ulang nominalnya sama dengan yang di amount Adsense, artinya pihak Google sudah membayarkan fee-nya saat WU-nya dikirimkan. Gede juga ya fee-nya, tapi kan gak urus..hehehe.. yang penting nominal duit saya nggak berkurang.. hehehe..

Akhirnya bawa form pencairan ke teller dan dimasukkan ke rekening Bank Mandiri saya. Cepat banget nggak sampe 30 menit udah masuk rekening, coi!! (sambil gaya Budi Anduk).

Ini form yang tersisa buat saya dari Bank Mandiri

Pembayaran Adsense via Western Union

Mengenai limit $2000 dari Google untuk pencairan via Western Union sepertinya tidak ada, karena toh sama Google amount diatas itu juga tetap dikirimkan.

Selamat menikmati bayaran Instan Adsense via Western Union. Bagi pengalaman anda juga disini (jika berkenan) :)

Menari di Atas Penderitaan Orang Lain

Friday, February 27th, 2009

Di saat krisis global yang melanda semua lini usaha saat ini, banyak sekali perusahaan yang yang menderita. Beberapa kali saya melihat berita di Detik dot com kalau beberapa BUMN menderita rugi kurs, bahkan kemaren diperkirakan salah satu BUMN sampai rugi kurs 1 Triliun lebih.

Memang nilai tukar rupiah terhadap dolar semakin lemah. Sebelum ada krisis global, nilai tukar bahkan di bawah 10 ribu, tapi sekarang sudah mencapai level 11.500 – 11.900. Bayangkan berapa selisihnya, bisa sampai Rp. 2000/dolar. Jika perusahaan-perusahaan itu sudah melakukan deal pembelian dengan dolar harga kurs lama lalu ternyata pada saat ini harga dolar sudah melambung, maka otomatis mereka akan merugi besar-besaran. Prihatin? Tentu saja prihatin melihat bangsa sendiri terpuruk remuk redam :mrgreen:

Tapi tentu saja, hal ini tidak berlaku bagi para penambang receh dolar di internet. Meskipun receh tapi dengan nilai tukar pada kisaran 11.500/dolar, bisa jadi para penambang dolar itu akan menerima penghasilan lebih hingga 20% dari nilai dolar yang dia hasilkan. Misalnya dia mendapat 100 dolar, jika ditukar rupiah dengan harga 10.000 maka dia akan mendapat 1.000.000. Tapi jika dengan kurs dolar 12.000/dolar, dia akan mendapatkan 1.200.000. Saya jadi mikir, kalau itu dikoversikan sebagai rugi kurs, tentu besar sekali kerugian perusahaan hanya karena perubahan nilai kurs ini yang bisa mencapai 20% dari nilai semula.

Saya tidak munafik, saya memang menari di atas penderitaan orang lain. Saya tertawa di saat para direksi perusahaan pusing memikirkan keuangannya yang porak poranda karena nilai tukar rupiah terhadap dolar melemah seperti saat ini.

Tapi ya memang mau apalagi, ini profesi satu-satunya yang saya bisa, dan saya mencintai dolar… hehehe..

Tentunya saya berharap nilai tukar dolar tidak terus melambung agar perusahaan tidak terus merugi dan tetap menjalankan usahanya. Karena banyak sekali orang yang menggantungkan diri dari pekerjaan mereka disana. Kalau semakin banyak PHK tentu saja akan menambah penderitaan masyarakat. Saya harap itu tidak terjadi. Amin

Sejenak saya ingin menikmati nilai tukar dollar yang melambung ini, kawan. Anggap saja saya dan kami para penambang dolar lainnya sedang menambah cadangan dolar bagi negara kami tercinta Indonesia, agar nilai tukar dolar bisa terkendali.

Wallahu’alam bishowab

Hak untuk Menolak Pertemanan

Friday, February 27th, 2009

Jejaring sosial (social networking) adalah bagian dari konsep internet generasi kedua (web 2.0). Konsep pertemanan ini lebih dari sekedar buku kontak/teman (contact list/friend list). Konsep ini ditemui di hampir setiap situs, baik yang memang merupakan jejaring pertemanan seperti Friendster, FaceBook, LinkedIn; hingga situs lain yang memanfaatkan konsep sosial seperti Plurk, Twitter, DeviantArt, dan lain-lain.

Ada sebuah trend, yang saya perhatikan, tumbuh dan berkembang dari Friendster. Bahkan berevolusi menjadi sebuah budaya — bahkan bagi beberapa orang, dianggap sebagai keharusan. Adalah mencari teman sebanyak-banyaknya, dimana jumlah teman menjadi suatu parameter kesuksesan dalam menggunakan layanan tersebut.

Seperti yang telah kita ketahui bersama, banyak sekali orang yang akhirnya "memohon" (nge-add) untuk menjadi teman, secara sembarangan. Ya, secara sembarangan: tanpa memperhatikan siapa, bahkan tanpa permisi sedikitpun — cenderung terkesan kurang ajar. Hal ini bisa sangat mengganggu dan menjadi dilema bagi beberapa pengguna layanan situs tersebut.

Mengganggu? jika terjadi hanya sekali atau dua kali, tentu tidak menjadi masalah. Namun jika "ajakan" tersebut datang setiap hari, tentunya akan menjengkelkan.

Dilema? Jika kita termasuk orang yang "tegas dan kejam", gampang untuk menekan tombol "Ignore", "Reject", atau bahkan "Block User". Namun terkadang, pengguna bisa saja ragu untuk menolak atau sekedar "menggantung permintaan" untuk menghindari anggapan angkuh atau sombong.

Tetapi, menolak ataupun menerima adalah sepenuhnya hak Anda!

Bagi saya sendiri, saya termasuk yang cukup selektif. Mungkin bagi beberapa orang adalah sepele: "kan tinggal terima aja, gak nganggu kan?". Tapi untuk beberapa situs seperti Plurk, terlalu banyak teman yang "liar" akan mengacaukan "timeline" yang bisa membuat kita pusing membacanya.

Namun, bagi beberapa orang yang memilih modus privasi untuk profil di situs-situs tersebut. Memilih-milih teman tentu artinya menjaga akses informasi pribadinya. Hanya orang-orang terpilih yang bisa mengaksesnya. Untuk itu lah perlu memilih teman bagi orang-orang tersebut.

Contoh lain adalah pada "blogroll" di sidebar. Banyak yang menawarkan saya untuk memasang link ke blog saya di blog yang bersangkutan. Tentu saja saya tidak menolak. Namun, dengan embel-embel meminta saya berbuat yang sama: memasang link blog beliau di blog saya. Terasa egois memang jika tidak "membalas budi". Namun, jika saya menuruti semua permintaan, maka daftar blogroll saya bisa sangat panjang — dan secara teknis bisa mengancam pagerank. Maka dari itu, kebijaksanaan saya untuk blogroll adalah memilih dengan pertimbangan pribadi secara subjektif. Namun jika Anda memang bersikeras untuk memasang link Anda di blog saya, bisa saja dengan jalan komersial — bahkan tidak sekedar link: banner pun bisa.

Bagaimana menurut Anda?

PS: icon of twitter, friendster, linkedin and facebook are from social.me by ~jwloh

Judul2an

Thursday, February 26th, 2009
A

Judul

Thursday, February 26th, 2009
A

Judul

Thursday, February 26th, 2009
A

Pengamen (Baca : Pemalak) Jakarta

Wednesday, February 25th, 2009
A

Tentang Hidup

Wednesday, February 25th, 2009

Bengep Bengep

Wednesday, February 25th, 2009
A